headerphoto

Data Penelitian Universitas Pendidikan Indonesia

MODEL INTERVENSI REHABILITATIF UNTUK MENINGKATKAN KEMANDIRIAN MELAKUKAN AKTIVITAS KEHIDUPAN SEHARI-HARI ANAK CEREBRAL PALSY' Sri Wedati

Kode :
Jenis Penelitian : Hibah Disertasi Doktor
Metode Penelitian : SURVEY
Tahun Penelitian : 2010
Sumber Dana : UPI
Fakultas : LEMBAGA PENELITIAN
Peneliti -
Abstrak Anak Cerebral Palsy termasuk salah satu
jenis anak berkebutuhan khusus yang memiliki kelainan atau kecacatan akibat kerusakan
otak. Mengingat peran otak sebagai pusat dari semua fungsi tubuh, maka
kerusakan di otak selain mengakibatkan kecacatan fisik juga dapat mengakibatkan
berbagai gangguan seperti gangguan gerak, gangguan bicara, pendengaran,
penglihatan, kecerdasan, sosial, emosi, dan gangguan perilaku. Berbagai
gangguan ini akhirnya akan menimbulkan masalah yang kompleks, yaitu masalah
dalam mobilisasi, melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari, masalah belajar,
dan kehidupan sosialnya. Semua masalah tersebut pada gilirannya dapat
mengakibatkan anak menjadi tidak mandiri.


Di samping menimbulkan masalah bagi anak,
kecacatan juga akan menjadi masalah bagi orang tua. Orang tua terkadang tidak
mengetahui harus bagaimana merawat, mengasuh, mendidik anaknya yang berkelainan
menjadi anak yang berpendidikan, memiliki kehidupan yang layak secara ekonomi,
vokasional, maupun sosial. Kondisi demikian dapat mengakibatkan kehadiran anak
cacat menjadi beban semua anggota keluarga.



P. Seibel (1984) memperkirakan jumlah
anak-anak Cerebral Palsy berkisar antara 0,15 sampai 0,3 persen dari populasi
anak-anak. Dengan demikian setiap 1000 kelahiran hidup, satu sampai tiga anak
diperkirakan menderita kelainan Cerebral Palsy.



Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan
terdapat 500 juta penyandang cacat di seluruh dunia. Di kebanyakan Negara,
sekurang-kurangnya satu dari setiap sepuluh orang penduduk menyandang kecacatan
fisik, mental atau sensori, dan dalam semua segmen populasi, sekurang-kurangnya
25% terpengaruh oleh adanya kecacatan (UN Enable, 2006).



Masalah yang dihadapi oleh anak Cerebral
Palsy sangat kompleks, akibat dari kecacatannya. Oleh karena itu diperlukan
penanganan yang komprehensif (menyeluruh), artinya bukan hanya menangani
masalah kecacatan fisiknya saja, tetapi juga masalah gangguan mental, sosial,
keterampilan, dan pendidikannya. Penanganan yang komprehensif ini terdapat
dalam intervensi rehabilitatif, karena konseling rehabilitasi merupakan suatu
proses sistematis untuk membantu individu yang memiliki kecacatan fisik,
mental, perkembangan, kognitif, dan emosi agar mampu mencapai kehidupan yang
mandiri tidak menjadi beban keluarganya.



Sebagai suatu layanan, konseling rehabilitasi
ditujukan untuk meningkatkan kualitas hidup, meningkatkan kemandirian, dan
mempromosikan kesetaraan peluang bagi individu penyandang cacat dengan cara
penerapan konseling pribadi dan vokasional. Konselor rehabilitasi membantu
individu penyandang cacat dalam mengidentifikasi kelebihan, kekurangan, dan
tujuan, serta mengembangkan rencana rehabilitasi untuk mencapai tujuan-tujuan
tersebut. Dengan demikian konseling rehabilitasi sangat penting diterapkan
untuk mengatasi masalah ketidakmandirian anak Cerebral Palsy.



Lembaga pendidikan formal yang menyelenggarakan
sekolah khusus bagi anak Cerebral Palsy adalah Sekolah Luar Biasa (SLB) Bagian
D (Tunadaksa). Lembaga ini disamping menyelenggarakan pendidikan juga
mengadakan layanan rehabilitasi yang bertujuan agar siswanya dapat mandiri.
Untuk mencapai tujuan tersebut, di sekolah dilaksanakan berbagai kegiatan seperti
pengajaran, latihan, bimbingan, dan rehabilitasi.



Kendatipun demikian, tampaknya layanan yang
diberikan belum efektif, khususnya layanan bimbingan yang dilakukan oleh
guru-guru. Terbukti dengan masih banyaknya siswa Cerebral Palsy yang belum
mandiri terutama dalam melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari seperti
kegiatan mengurus diri sendiri, berkomunikasi, dan sosialisasi.



Hasil studi pendahuluan yang dilakukan terhadap
anak Cerebral Palsy di SLB-SLB se-Kota dan Kabupaten Bandung menemukan bahwa pada
umumnya para siswa tidak mandiri dalam melakukan aktivitas kehidupan
sehari-hari. Hal itu antara lain disebabkan oleh kondisi kecacatan anak itu
sendiri dan perlakuan orang tua yang masih salah, serta layanan bimbingan di
sekolah yang kurang efektif.



Kondisi kecacatan anak Cerebral Palsy yang bersekolah
di SLB-SLB se-Kota dan Kabupaten Bandung pada umumnya adalah tipe spastik,
yaitu mengalami kekejangan atau kekakuan pada sebagian atau seluruh anggota
geraknya. Di samping itu juga mengalami gangguan bicara karena kekejangan pada
otot-otot bicaranya. Dengan kondisi yang demikian anak menjadi sulit melakukan
aktivitas kehidupan sehari-hari dan sulit untuk berkomunikasi, sehingga anak
akhirnya sulit untuk mandiri.



Cerebral Palsy tipe Spastik
ditandai dengan adanya gejala kekejangan atau kekakuan pada sebagian ataupun
seluruh otot. Kekakuan itu timbul sewaktu akan digerakkan sesuai dengan
kehendak. Dalam keadaan ketergantungan emosional, kekakuan atau kekejangan itu
akan semakin bertambah. Sebaliknya dalam keadaan tenang, kekejangan menjadi
berkurang. Pada umumnya anak Cerebral Palsy jenis Spastik memiliki tingkat
kecerdasan yang tidak terlalu rendah. Bahkan ada yang normal dan di atas
normal.



Anak Cerebral Palsy Spastik
merupakan kelompok terbesar dari semua jenis Cerebral Palsy yang kerusakannya
ada di daerah korteks serebri dan traktus piramidalis. Akibatnya perkembangan
motoriknya terganggu dalam hal ini termasuk perkembangan koordinasi motorik
antara mata, dan tangan serta kakinya. Gangguan gerak yang dialami anak
Cerebral Palsy Spastik juga dapat mempengaruhi perkembangan mental dan
psikologisnya. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya adalah
kelainan fisiknya yang membuat anak tersebut mengalami krisis percaya diri yang
mengakibatkan anak cenderung menutup diri dalam bergaul dengan anak normal
lainnya. Di samping itu, pada umumnya juga disertai dengan gangguan mental ada
yang ringan, sedang, dan berat yang dapat mempengaruhi perkembangan mentalnya.



Penyebab ketidakmandirian anak Cerebral Palsy
ternyata bukan hanya karena kondisi kecacatan anak itu sendiri, tetapi juga
disebabkan oleh perlakuan dari orang tuanya yang tidak tepat. Penelitian
Fitzgerald menunjukkan bahwa reaksi dan perlakuan keluarga merupakan salah satu
sumber frustrasi bagi anak-anak cacat fisik, yang tidak jarang justru berakibat
lebih berat daripada akibat ketunadaksaannya. Lebih lanjut lagi hasil
penelitian Mc.Michael menunjukkan bahwa adanya stress emosi sering merupakan
masalah yang menyertai keadaan cacat fisik anak tersebut. Hasil dari kedua
penelitian tersebut berkaitan dengan sikap orang tua dan orang-orang lain di
sekitar anak tunadaksa (Cerebral Palsy). Oleh karena itu, intervensi
rehabilitatif selain diberikan pada anak Cerebral Palsy juga pada orang tuanya
agar memperlakukan anaknya dengan tepat.



Intervensi rehabilitatif yang diberikan pada orang
tua dapat dilakukan melalui konseling kognitif perilaku, mengingat masih banyak
orang tua yang masih belum tepat dalam memperlakukan anaknya. Dalam hal ini
orang tua mempunyai pikiran yang tidak rasional, menganggap anaknya yang cacat
tidak mampu apa-apa, dan tidak berdaya. Akibatnya orang tua selalu membantu
semua aktivitas yang dilakukan anak, karena merasa kasihan dan tidak tega.
Akhirnya justru menjadikan anak tidak mandiri. Pikiran yang tidak rasional ini
perlu diubah dengan cara memberikan konseling kognitif perilaku, agar menjadi
rasional dapat memperlakukan anaknya dengan tepat. Orang tua harus menganggap
bahwa walaupun anaknya cacat namun masih ada sisa kemampuan yang dapat
dikembangkan. Tugas orang tua untuk mengembangkan kemampuan anaknya secara
optimal dengan cara memperlakukan secara wajar, memberi kesempatan dan
kepercayaan kepada anak untuk mencoba melakukan aktivitas kehidupannya sendiri
agar menjadi mandiri. Untuk itu, dalam penelitian ini perlu memberikan
konseling kognitif perilaku pada orang tuanya agar dapat memperlakukan anaknya
dengan tepat.



Layanan bimbingan di sekolah tampaknya belum dapat
memandirikan anak secara optimal, terbukti dari masih banyaknya anak Cerebral
Palsy yang belum mandiri. Layanannya masih terkesan seadanya, belum terprogram
secara sistematis. Bimbingan yang dilakukan oleh guru wali kelas berupa
bimbingan belajar bagi siswa-siswa yang mengalami kesulitan belajar, sehingga
belum dapat memandirikan anak secara keseluruhan. Karena itu, para guru juga
perlu diberi intervensi rehabilitatif.



Intervensi rehabilitatif yang diberikan kepada
para guru pembimbingnya berupa pelatihan Bina Diri, karena Bina Diri merupakan
pengajaran yang diberikan oleh guru dengan tujuan agar anak dapat mandiri baik
dalam melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari, dalam komunikasi maupun dalam
beradaptasi dengan lingkungannya. Tampaknya bimbingan yang diberikan oleh guru
belum efektif atau belum dapat meningkatkan kemandirian anak Cerebral Palsy
khususnya dalam melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu para
guru pembimbing perlu diberikan intervensi rehabilitatif melalui pelatihan Bina
Diri.



Intervensi pada orang tua dan pada guru
pembimbingnya sangat perlu untuk diberikan agar orang tua dapat memperlakukan
anaknya dengan tepat dan para guru pembimbing dapat memberikan bimbingan
kemandirian dengan efektif, yang akhirnya dapat meningkatkan kemandirian anak
Cerebral Palsy dalam melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari.



Dilatarbelakangi oleh hal-hal tersebut, maka
perlu ditemukan model intervensi rehabilitatif sebagai solusi untuk
meningkatkan kemandirian anak Cerebral Palsy. Sudah barang tentu dukungan dan
perlakuan orang tua sangat diperlukan atas keberhasilannya. Seperti yang
dikemukakan oleh Power, Dell Orto, dan Gibbons (1988), bahwa keluarga dapat
menjadi sumber bantuan utama bagi rehabilitasi atau proses penyesuaian seorang
individu, atau juga dapat menjadi batu sandungan yang signifikan menuju pencapaian
tujuan treatment. Keluarga dan orang terdekat lainnya mempengaruhi cara
individu merespon terhadap kecacatannya, dan pada gilirannya, keluarga
dipengaruhi oleh kecacatan yang terjadi pada seorang anggota keluarga. Keluarga
yang tidak dilibatkan dalam proses rehabilitasi akan lebih sulit memberikan
dukungan terhadap upaya rehabilitasi. Karena itu, dalam merehabilitasi anak
perlu mengikutsertakan orang tua agar lebih memahami masalah anaknya dan dapat
memberi perlakuan yang sebaiknya kepada anak agar tidak selalu tergantung pada
orang lain.



Dalam model ini para orang tua anak Cerebral Palsy
yang masih salah memperlakukan anaknya dengan overprotektif diberikan konseling
kognitif perilaku  agar dapat
memperlakukan anaknya dengan tepat. Adapun para guru pembimbingnya diberikan
pelatihan Bina Diri serta bimbingan kemandirian agar efektif dalam membimbing
anak Cerebral Palsy dalam melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari.
Selanjutnya para guru memberikan intervensi rehabilitatif melalui pengajaran
Bina Diri pada anak Cerebral Palsy dengan dukungan perlakuan yang tepat dari
orang tuanya agar mandiri.



 



B. TUJUAN



Model intervensi rehabilitatif ini bertujuan untuk
meningkatkan kemandirian anak Cerebral Palsy dalam melakukan aktivitas
kehidupan sehari-hari. Adapun tujuan operasionalnya untuk:



1. Mengubah perlakuan orang
tua kepada anaknya yang masih salah menjadi tepat.



2. Meningkatkan
keterampilan guru pembimbingnya agar efektif



 



C. ASUMSI 
INTERVENSI



1. Kemandirian anak Cerebral
Palsy dalam melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari dapat ditingkatkan
melalui intervensi rehabilitatif.



2. Dukungan lingkungan
sekitarnya dapat membantu meningkatkan kemandirian anak Cerebral Palsy dalam
melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari..



3. Perlakuan orang tua yang
tepat dapat meningkatkan kemandirian anak Cerebral Palsy dalam melakukan
aktivitas kehidupan sehari-hari..



4. Alat-alat bantu yang
dimodifikasi dapat meningkatkan kemandirian anak Cerebral Palsy.



5. Konselor yang bebas dari
prasangka negatif dan menerima klien yang cacat apa adanya dan tanpa syarat
akan menjadikan proses konseling efektif.



6. Konselor dituntut untuk
memiliki kepekaan dan melepaskan diri dari bias-bias dan prasangka, memahami
klien yang cacat, dan memiliki keterampilan yang responsif agar konseling menjadi
efektif.



7. Makin banyak kesesuaian
antara konselor dengan klien dalam hal psikologis maupun sosial budaya, makin
besar kemungkinan konseling akan efektif.



8. Dalam proses intervensi
rehabilitatif perlu mengutamakan permasalahan yang berkaitan dengan rasa
frustasi dengan hambatan bentuk tubuh atau prasangka negatif terhadap individu
penyandang cacat.



9. Pengajaran Bina Diri
dapat meningkatkan kemandirian melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari anak
Cerebral Palsy.



 



D. TARGET INTERVENSI



Target yang akan dicapai dalam  intervensi ini adalah:



1. Perubahan  perlakuan orang tua yang tadinya tidak tepat
berubah menjadi tepat



2. Bimbingan guru menjadi
lebih efektif



3. Anak Cerebral Palsy
meningkat kemandiriannya dalam melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari



 

Kata kunci :
Download File MODEL-INTERVENSI-REHABILITATIF-UNTUK-MENINGKATKAN--KEMANDIRIAN-MELAKUKAN-AKTIVITAS-KEHIDUPAN-SEHARI-HARI-ANAK-CEREBRAL-PALSY' Sri-Wedati.doc