Data Penelitian Universitas Pendidikan Indonesia
DERAJAT KEBAKUAN PEMAKAIAN KONJUNGSI, NUMERALIA, DAN PRONOMINA DALAM BAHASA INDONESIA TERJEMAHAN |
|
| Kode | : |
|---|---|
| Jenis Penelitian | : Fundamental |
| Metode Penelitian | : SURVEY |
| Tahun Penelitian | : 2010 |
| Sumber Dana | : UPI |
| Fakultas | : LEMBAGA PENELITIAN |
| Peneliti |
- Wagino Hamid Hamdani, H. Sugiarto, Ahmad Sukarna, Maman Abdurahman |
| Abstrak | Masalah penelitian ini bersumber dari hasil telaah kepustakaan yang menunjukkan bahwasanya hingga saat ini belum terungkap ihwal derajat kebakuan pemakaian konjungsi, numeralia, dan pronomina dalam bahasa Indonesia terjemahan Alquran. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan ihwal frekuensi, variasi, dan derajat kebakuan pemakaian ketiga kelas kata tadi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif-evaluatif dengan model analisis isi. Sumber penelitiannya berupa dokumen mushaf Alquran terbitan Depag RI bekerja sama dengan Departemen Urusan Agama Islam, wakaf dan Irsyad Kerajaan Arab Saudi tahun 1415 H/1995. Adapun objek masalahnya terfokus pada pemakaian 8 bentuk konjungsi, 2 bentuk numeralia, dan 3 bentuk pronomia. Data penelitian dihimpun melalui teknik dokumentasi dengan format pencatatan data dan dianalisis secara kualitatif melalui langkah-langkah: deskripsi, interpretasi, koreksi, remidi, dan konklusi dan secara kuantitatif dengan perhitungan persentase, rentangan, dan rata-rata. Dari hasil analisis itu diperoleh gambaran tentang: (1) konjungsi atau memiliki frekuensi pemakaian yang terbanyak (331x), sedangkan yang paling sedikit adalah konjungsi hingga (57x); rata-rata derajat kebakuan pemakaian konjungsi tergolong tinggi (80,18%); pemakaian konjungsi takbaku (atau, tetapi, yaitu, hingga, sedangkan, bahwa, sekiranya, dan agar) bersumber dari pemakaian bahasa sumber yang merentang antara 1 - 9 bentuk satuan gramatikal dan konjungsi tetapi termasuk yang paling bervariasi (9 bentuk); konjungsi sedangkan dan hingga, masing-masing bersumber dari 1 satuan gramatikal: wau dan hatta ; (2) numeralia suatu berfrekuensi sebanyak 273x, sedangkan numeralia semua berfrekuensi 110x; rata-rata derajat kebakuan pemakaian numeralia tergolong tinggi (86,89%); numeralia suatu bersumber dari 4 satuan gramatikal (maa, syain, alif lam, dan zero) dan semua takbaku bersumber dari 5 satuan gramatikal (al ma?rifat, bentuk jamak taksir, kullu, isim maushu, dan zero) dan (3) pronomina ia memiliki frekuensi terbanyak (407x), sedangkan yang paling rendah adalah pronomina (numeralia ditributif) masing-masing (46x); rata-rata derajat kebakuan pemakaiannya tergolong sedang (72,58%). Pronomina ia takbaku bersumber dari 4 satuan gramatikal (dhamir muttashil maf?ul bih, majrur, idhafat, dan zero); sesuatu bersumber dari nakirah (sebagian besar), ma?rifat, ma?na fi?il, dan zero. Ketidakbakuannya tampak dalam bentuk (1) ketidaksesuaian pemakaian konjungsi, numeralia, dan pronomina (2) saling pertukaran antara satu bentuk konjungsi dan knjungsi lain dan numeralia dengan pronomina dalam pemakaiannya. Gejala ketidakbakuan pemakaian konjungsi, numeralia, dan pronomina, masing-masing merentang antara: 9,85% - 36,28%; 4,40% - 21,82%; dan 4,91% - 47,83%. Adapun faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya gejala ketidakbakuan antara lain: (1) tidak taat asas pada kaidah baku (2) pengaruh terjemah harfiyah dan atau tafsiriyah, (3) pengaruh pemakaian bahasa Indonesia lama, (4) kurang mempertimbangkan makna gramatikal konjungsi, numeralia, dan pronomina bahasa Indonesia, (5) kurang tepat dalam penerjemahan suatu unsur bahasa |
| Kata kunci | : |
| Download File | DERAJAT-KEBAKUAN-PEMAKAIAN-KONJUNGSI,-NUMERALIA,-DAN-PRONOMINA--DALAM-BAHASA--INDONESIA-TERJEMAHAN-.doc |